/page/2

Rumah.

Siang itu, aku melewatkan makan siangku dengan seorang kawan baru. Sarah namanya, ia seorang ahli Biologi dari Sweden. Jauh-jauh dari Sweden ia membicarakan tentang hidupnya yang baru di Ubud.  Kemudian, entah dari mana asalnya, tiba-tiba ia bertanya padaku, “ what about your dream house, tell me!”. Aku tersedak. Terkesima, lalu aku balik bertanya “ Dream house? You know what, i dont even have a home”.  Aku sadar, aku mengalami amnesia akan arti rumah, begitu juga dia.

****

Di alkitab, aku mengingat cerita mengenai Kain dan Habil,anak Adam.  Kain,ia adalah manusia pengolah tanah, tugasnya adalah menjinakkan alam,yang secara fisik ia membangun sesuatu baru diatasnya. Sedangkan Habil,Ia adalah petualang, pengembara ternak,tugasnya ia menciptakan sistem yang lekang antara alam dan kehidupan. Diantara mereka perselisihan terjadi. Kain dan Habil memperebutkan kuasanya, dan akhirnya Habil mati. Kemudian, karena dosanya, Kain di usir oleh Tuhan dari tanah yang ia diami, terbuang pada padang rumput dimana Habil pernah mengembara.

Kain dan Habil. Pernyataan simbolik dari alkitab dari suatu ambiguitas- settlement dan nomadism. Dalam kerangka arsitektur, settlement, tentu saja sangat identik dengan arsitek, yang berfungsi untuk menciptakan lingkungan binaan. Lalu nomad, pengelana pada ruang-ruang terbuka, penjelajah-‘anti-arsitek’.  Namun, Kain mati, dikutuk menjadi Habil  si “ anti-arsitek”. Kemudian, apa artinya rumah, kalau toh Kain menjadi pengelana juga?

Arsitektur lahir, dari sebuah kebutuhan akan ruang tinggal-Rumah. Tempat dimana kita bisa pulang, dan dimana kita akan pergi. Dua aktivitas yang paradoks, yang tentunya merupakan pengalama spasial yang berbeda pula. Pulang, lalu pergi. Rumah-rumah gua,tenda-tenda yang bergerak menyebrangi bumi, mereka itu tidak meninggalkan jejak yang bertahan lama. Bermukim, berpindah dalam satu waktu? Keduanya saling beroposisi namun memiliki relasi yang sangat intens, ‘notion of journey’. Sangat dimungkinkan bahwa arsitektur, terlahir dari suatu pengembaraan. Sebuah upaya untuk menandai secara simbolik sebuah lansekap dimana suatu pengembaraan  bersinggah.

Awal mula peradaban, selalu diawali dengan kata ‘ekspedisi’,’eksplorasi’ yang berujung dengan persinggahan,transisi atau settlement. Ingat marcopolo melakukan ekspedisi mengelilingi dunia, Kubilai Khan, Colombus, mereka itu pengembara yang menemukan tempat persinggahan,dan menandainya secara simbolik,yang hingga kini kita kenal sebagai ‘negara’ baru. Andaikata mereka tak ada, mungkin tak akan ditemukan ruang-ruang sudut dunia yang terpencil,kini menjadi negara besar. Sebelum merekapun, para manusia primitif mengembara untuk menemukan habitat yang cocok untuk mereka. Mendirikan gua, lalu bercocok tanam, kemudian pindah lagi jika alam tak lagi memungkinkan untuk tinggal. Arsitektur, sesuatu yang mereka tandai, tanda adanya kehidupan, meninggalkan jejak dari masa ke masa. Menceritakan suatu cerita, peristiwa akan siapa dan bagaimana alam dan manusia berdialog, bernegosiasi. Arsitektur, sebagai tempat yang tidak hanya ditinggali, namun tempat untuk pergi juga. Blue print sejarah yang nyata secara fisik.

Lalu apa artinya “ rumah”? di jaman ini?

Dalam dunia kontemporer sekarang ini, kita amati banyak ruang-ruang yang tercipta secara spontan. Sifatnya bermacam-macam, dari yang maya, psikis, temporer, maupun permanen. Pada sebuah kota, dimana masyarakatnya kini, bergairah untuk melepaskan diri keluar, mobilisasi individu akan kebutuhan yang kian membengkak. Terpental-pental dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Wkatu menjadi denyut baru kedihupan. Ruang menjadi kabur. Tak pernah benar-benar tinggal didalamnya,karena terus bergerak. Sesungguhnya, kita menjelma menjadi “penghuni waktu”, sementara rumah menjadi sekedar ruang transit. Rumah, menjadi kehilangan batas definitfnya dan menjadi elastis. Kota sendiri kita memunculkan perannya sebagai elemen rumah. Lihat penciptaan ruang-ruang singgah yang ada: duduk berjam jam di kafe berinternet, tidur di jalan dalam perjalanan pulang kantor, menerima tamu di lobi hotel, makan di restoran, menggunakan toilet di pompa bensin. Semuanya, seperti berganti setiap saat, tak ada yang benar-benar terdiami.

Lipatan ruang kota ,ruang-ruang transit telah tumbuh,teritori dalam perubahan mengikuti hentakan waktu. Ini merupakan suatu ruang yang “sekaligus tinggal dan pergi” melampaui pembagian berabad-abad lamanya antara “ruang tinggal” dan “ ruang pergi”. Tak hanya tekhnologi yang melahirkan semua prosesi kecepatan dan pemampatan, tapi juga ruang, kini mampat,terkondensasi dengan waktu pada saat bersamaan. Pengkotakan, pemisahan akan definisi rumah menjadi kabur, karena apakah sekarang rumah cenderung berbatas dalam hal fisik saja? Ataupun rumah merupakan pengembaraan itu sendiri? Rasanya seperti tak ada lagi tempat yang diikat oleh hal-hal yang dekat dan intim. Semua lepas, jadi suatu persinggahan yang tak kita kenali, apalagi kita cintai.

Lalu, suatu pertanyaan timbul, apakah kita nomad atau settler? Ambiguitas sekarang sangat nyata. Kehilangan diri dalam urban amnesia, ditengah ruang-ruang banal yang tercipta, tak sadar diri dari kota. Memori, menjadi tertindas,penolakan, ketiadaan kontrol,telah menghasilkan sistem dari ruang kosong yang didalamnya manusia hanya melayang. Mungkin, kita perlu jangkar, untuk bisa selalu kembali. Momen-momen,benda,orang-orang yang bisa mengikat ingatan lepas, menyadarkan dari amnesia urban berkepanjangan-mengembalikan rumah menjadi sesuatu yang intim. Yang membuat betah, dan memberi makna. Mungkin juga cinta.

Pencitraan akan sebuah rumah, tak sebatas fisik, namun hakekatnya lebih pada sesuatu yang tak terlihat. Sebuah kenangan, pengalaman yang mengikat kita pada sebuah ruang – sense of place. Nilai, makna akan suatu peristiwa, ikatan terhadap ruang tinggal dimana kita benar-benar hadir di dalamnya untuk mengalami. Karena, sering kita lupa bahwa yang tak terlihat itulah, adalah hakikat arsitektur sesungguhnya. 

****

Kembali kepada pada percakapan kami

Sarah : “ No way, you do have home. Me, coming here, to find my way home. It must be something lingered ”. 

Me:  “ Come all away down to just find a home? Well, i guess we are the same. Yes, i have house, but i am not sure about home,eventually something to ligered on. It is my memory of place, whereas i feel so safe and inspired all the time”

Sarah : “ it’s look like we all refugees of our own life,dont we?try to find ourself secure at last?”

Me : “ just gotta find a place or space where you can be whatever to be”

Sarah : “I see,  i think, you will never find your perfect house,untill you met your home”

Ubud, 8 April 2012

” a long day at Canggahwang…” , march 2012

” a long day at Canggahwang…” , march 2012

” Unswept ” , March 2012

” Unswept ” , March 2012

“I am a Shadow ” , March 2012

“I am a Shadow ” , March 2012

” Palestine” - March 2012 

” Palestine” - March 2012 

Song of the day : Ray of light , Madonna 1998

Ray of light

 Zephyr in the sky at night I wonderDo my tears of mourning sink beneath the sunShe’s got herself a universe gone quicklyFor the call of thunder threatens everyoneAnd I feel like I just got home
Faster than the speeding light she’s flyingTrying to remember where it all beganShe’s got herself a little piece of heavenWaiting for the time when Earth shall be as one
Quicker than a ray of light
Then gone forSomeone else shall be thereThrough the endless yearsShe’s got herself a universeQuicker than a ray of light she’s flyingQuicker than a ray of light I’m flying


(Source: http)

Three texts from Feedback

Three texts from Feedback

Chad Simon

“A Poem for Emily”

This woman’s husband fell in love with someone and then that person became mentally ill. He has probably fought with her, hoping she would seek treatment, hoping he could yell her in to getting better, because there was a time when they walked hand-in-hand beneath an impossibly large sky, a time when they took off their shoes to wade knee-deep across a creek in the woods behind his parents’ house, when they went looking one day for an old truck that had been abandoned there before David was born, this rusted beast he used to play around when he was a kid, and they started kissing standing there in the creek, their mouths so wet and warm they stepped out of the water and onto a mossy little clearing and didn’t bother putting their shoes back on for a while.

He remembers dozens of times like this; she used to be so unafraid.

Now, though, he sees her only in two ways—afraid and mostly sad or terrified—and in this single place, a house they’d bought together before anything at all was wrong in the world. He’s seen her struggle. He’s felt helpless. He began writing these poems, which helped for a while, but the life he’s living now doesn’t feel very much like what he’d signed up for all those years ago. He feels guilty for getting mad at her, and he feels bad for getting frustrated with her, and he is always mad, always frustrated, always feeling guilty.

But you’re giving me instead of these things this agoraphobic woman feeding her cat, thinking about that poetry workshop where she and David met. These are fine moments in and of themselves, and pretty well rendered, but there’s a story going on here that you’re neglecting, and that’s wholly worth telling, I am certain of it.

Rumah.

Siang itu, aku melewatkan makan siangku dengan seorang kawan baru. Sarah namanya, ia seorang ahli Biologi dari Sweden. Jauh-jauh dari Sweden ia membicarakan tentang hidupnya yang baru di Ubud.  Kemudian, entah dari mana asalnya, tiba-tiba ia bertanya padaku, “ what about your dream house, tell me!”. Aku tersedak. Terkesima, lalu aku balik bertanya “ Dream house? You know what, i dont even have a home”.  Aku sadar, aku mengalami amnesia akan arti rumah, begitu juga dia.

****

Di alkitab, aku mengingat cerita mengenai Kain dan Habil,anak Adam.  Kain,ia adalah manusia pengolah tanah, tugasnya adalah menjinakkan alam,yang secara fisik ia membangun sesuatu baru diatasnya. Sedangkan Habil,Ia adalah petualang, pengembara ternak,tugasnya ia menciptakan sistem yang lekang antara alam dan kehidupan. Diantara mereka perselisihan terjadi. Kain dan Habil memperebutkan kuasanya, dan akhirnya Habil mati. Kemudian, karena dosanya, Kain di usir oleh Tuhan dari tanah yang ia diami, terbuang pada padang rumput dimana Habil pernah mengembara.

Kain dan Habil. Pernyataan simbolik dari alkitab dari suatu ambiguitas- settlement dan nomadism. Dalam kerangka arsitektur, settlement, tentu saja sangat identik dengan arsitek, yang berfungsi untuk menciptakan lingkungan binaan. Lalu nomad, pengelana pada ruang-ruang terbuka, penjelajah-‘anti-arsitek’.  Namun, Kain mati, dikutuk menjadi Habil  si “ anti-arsitek”. Kemudian, apa artinya rumah, kalau toh Kain menjadi pengelana juga?

Arsitektur lahir, dari sebuah kebutuhan akan ruang tinggal-Rumah. Tempat dimana kita bisa pulang, dan dimana kita akan pergi. Dua aktivitas yang paradoks, yang tentunya merupakan pengalama spasial yang berbeda pula. Pulang, lalu pergi. Rumah-rumah gua,tenda-tenda yang bergerak menyebrangi bumi, mereka itu tidak meninggalkan jejak yang bertahan lama. Bermukim, berpindah dalam satu waktu? Keduanya saling beroposisi namun memiliki relasi yang sangat intens, ‘notion of journey’. Sangat dimungkinkan bahwa arsitektur, terlahir dari suatu pengembaraan. Sebuah upaya untuk menandai secara simbolik sebuah lansekap dimana suatu pengembaraan  bersinggah.

Awal mula peradaban, selalu diawali dengan kata ‘ekspedisi’,’eksplorasi’ yang berujung dengan persinggahan,transisi atau settlement. Ingat marcopolo melakukan ekspedisi mengelilingi dunia, Kubilai Khan, Colombus, mereka itu pengembara yang menemukan tempat persinggahan,dan menandainya secara simbolik,yang hingga kini kita kenal sebagai ‘negara’ baru. Andaikata mereka tak ada, mungkin tak akan ditemukan ruang-ruang sudut dunia yang terpencil,kini menjadi negara besar. Sebelum merekapun, para manusia primitif mengembara untuk menemukan habitat yang cocok untuk mereka. Mendirikan gua, lalu bercocok tanam, kemudian pindah lagi jika alam tak lagi memungkinkan untuk tinggal. Arsitektur, sesuatu yang mereka tandai, tanda adanya kehidupan, meninggalkan jejak dari masa ke masa. Menceritakan suatu cerita, peristiwa akan siapa dan bagaimana alam dan manusia berdialog, bernegosiasi. Arsitektur, sebagai tempat yang tidak hanya ditinggali, namun tempat untuk pergi juga. Blue print sejarah yang nyata secara fisik.

Lalu apa artinya “ rumah”? di jaman ini?

Dalam dunia kontemporer sekarang ini, kita amati banyak ruang-ruang yang tercipta secara spontan. Sifatnya bermacam-macam, dari yang maya, psikis, temporer, maupun permanen. Pada sebuah kota, dimana masyarakatnya kini, bergairah untuk melepaskan diri keluar, mobilisasi individu akan kebutuhan yang kian membengkak. Terpental-pental dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Wkatu menjadi denyut baru kedihupan. Ruang menjadi kabur. Tak pernah benar-benar tinggal didalamnya,karena terus bergerak. Sesungguhnya, kita menjelma menjadi “penghuni waktu”, sementara rumah menjadi sekedar ruang transit. Rumah, menjadi kehilangan batas definitfnya dan menjadi elastis. Kota sendiri kita memunculkan perannya sebagai elemen rumah. Lihat penciptaan ruang-ruang singgah yang ada: duduk berjam jam di kafe berinternet, tidur di jalan dalam perjalanan pulang kantor, menerima tamu di lobi hotel, makan di restoran, menggunakan toilet di pompa bensin. Semuanya, seperti berganti setiap saat, tak ada yang benar-benar terdiami.

Lipatan ruang kota ,ruang-ruang transit telah tumbuh,teritori dalam perubahan mengikuti hentakan waktu. Ini merupakan suatu ruang yang “sekaligus tinggal dan pergi” melampaui pembagian berabad-abad lamanya antara “ruang tinggal” dan “ ruang pergi”. Tak hanya tekhnologi yang melahirkan semua prosesi kecepatan dan pemampatan, tapi juga ruang, kini mampat,terkondensasi dengan waktu pada saat bersamaan. Pengkotakan, pemisahan akan definisi rumah menjadi kabur, karena apakah sekarang rumah cenderung berbatas dalam hal fisik saja? Ataupun rumah merupakan pengembaraan itu sendiri? Rasanya seperti tak ada lagi tempat yang diikat oleh hal-hal yang dekat dan intim. Semua lepas, jadi suatu persinggahan yang tak kita kenali, apalagi kita cintai.

Lalu, suatu pertanyaan timbul, apakah kita nomad atau settler? Ambiguitas sekarang sangat nyata. Kehilangan diri dalam urban amnesia, ditengah ruang-ruang banal yang tercipta, tak sadar diri dari kota. Memori, menjadi tertindas,penolakan, ketiadaan kontrol,telah menghasilkan sistem dari ruang kosong yang didalamnya manusia hanya melayang. Mungkin, kita perlu jangkar, untuk bisa selalu kembali. Momen-momen,benda,orang-orang yang bisa mengikat ingatan lepas, menyadarkan dari amnesia urban berkepanjangan-mengembalikan rumah menjadi sesuatu yang intim. Yang membuat betah, dan memberi makna. Mungkin juga cinta.

Pencitraan akan sebuah rumah, tak sebatas fisik, namun hakekatnya lebih pada sesuatu yang tak terlihat. Sebuah kenangan, pengalaman yang mengikat kita pada sebuah ruang – sense of place. Nilai, makna akan suatu peristiwa, ikatan terhadap ruang tinggal dimana kita benar-benar hadir di dalamnya untuk mengalami. Karena, sering kita lupa bahwa yang tak terlihat itulah, adalah hakikat arsitektur sesungguhnya. 

****

Kembali kepada pada percakapan kami

Sarah : “ No way, you do have home. Me, coming here, to find my way home. It must be something lingered ”. 

Me:  “ Come all away down to just find a home? Well, i guess we are the same. Yes, i have house, but i am not sure about home,eventually something to ligered on. It is my memory of place, whereas i feel so safe and inspired all the time”

Sarah : “ it’s look like we all refugees of our own life,dont we?try to find ourself secure at last?”

Me : “ just gotta find a place or space where you can be whatever to be”

Sarah : “I see,  i think, you will never find your perfect house,untill you met your home”

Ubud, 8 April 2012

” a long day at Canggahwang…” , march 2012

” a long day at Canggahwang…” , march 2012

” Unswept ” , March 2012

” Unswept ” , March 2012

“I am a Shadow ” , March 2012

“I am a Shadow ” , March 2012

” Palestine” - March 2012 

” Palestine” - March 2012 

Song of the day : Ray of light , Madonna 1998

Ray of light

 Zephyr in the sky at night I wonderDo my tears of mourning sink beneath the sunShe’s got herself a universe gone quicklyFor the call of thunder threatens everyoneAnd I feel like I just got home
Faster than the speeding light she’s flyingTrying to remember where it all beganShe’s got herself a little piece of heavenWaiting for the time when Earth shall be as one
Quicker than a ray of light
Then gone forSomeone else shall be thereThrough the endless yearsShe’s got herself a universeQuicker than a ray of light she’s flyingQuicker than a ray of light I’m flying


(Source: http)

saatkelincitertidur:

NDUK. (Taken with instagram)

saatkelincitertidur:

NDUK. (Taken with instagram)

saatkelincitertidur:

NDUK MRENEO . (Taken with instagram)

saatkelincitertidur:

NDUK MRENEO . (Taken with instagram)

saatkelincitertidur:

NDUK MRENEO DITIMBALI ROMO (Taken with instagram)

saatkelincitertidur:

NDUK MRENEO DITIMBALI ROMO (Taken with instagram)

Three texts from Feedback

Three texts from Feedback

Chad Simon

“A Poem for Emily”

This woman’s husband fell in love with someone and then that person became mentally ill. He has probably fought with her, hoping she would seek treatment, hoping he could yell her in to getting better, because there was a time when they walked hand-in-hand beneath an impossibly large sky, a time when they took off their shoes to wade knee-deep across a creek in the woods behind his parents’ house, when they went looking one day for an old truck that had been abandoned there before David was born, this rusted beast he used to play around when he was a kid, and they started kissing standing there in the creek, their mouths so wet and warm they stepped out of the water and onto a mossy little clearing and didn’t bother putting their shoes back on for a while.

He remembers dozens of times like this; she used to be so unafraid.

Now, though, he sees her only in two ways—afraid and mostly sad or terrified—and in this single place, a house they’d bought together before anything at all was wrong in the world. He’s seen her struggle. He’s felt helpless. He began writing these poems, which helped for a while, but the life he’s living now doesn’t feel very much like what he’d signed up for all those years ago. He feels guilty for getting mad at her, and he feels bad for getting frustrated with her, and he is always mad, always frustrated, always feeling guilty.

But you’re giving me instead of these things this agoraphobic woman feeding her cat, thinking about that poetry workshop where she and David met. These are fine moments in and of themselves, and pretty well rendered, but there’s a story going on here that you’re neglecting, and that’s wholly worth telling, I am certain of it.

Rumah.
Song of the day : Ray of light , Madonna 1998
Three texts from Feedback

About:

I promised myself as a child,
never to forget what it feel like to be a child
to dream and invest in the Imaginary,
The Fantastic, The Impossible.

My blog is about trying to keep that promise.

Following: