Rumah.
Siang itu, aku melewatkan makan siangku dengan seorang kawan baru. Sarah namanya, ia seorang ahli Biologi dari Sweden. Jauh-jauh dari Sweden ia membicarakan tentang hidupnya yang baru di Ubud. Kemudian, entah dari mana asalnya, tiba-tiba ia bertanya padaku, “ what about your dream house, tell me!”. Aku tersedak. Terkesima, lalu aku balik bertanya “ Dream house? You know what, i dont even have a home”. Aku sadar, aku mengalami amnesia akan arti rumah, begitu juga dia.
****
Di alkitab, aku mengingat cerita mengenai Kain dan Habil,anak Adam. Kain,ia adalah manusia pengolah tanah, tugasnya adalah menjinakkan alam,yang secara fisik ia membangun sesuatu baru diatasnya. Sedangkan Habil,Ia adalah petualang, pengembara ternak,tugasnya ia menciptakan sistem yang lekang antara alam dan kehidupan. Diantara mereka perselisihan terjadi. Kain dan Habil memperebutkan kuasanya, dan akhirnya Habil mati. Kemudian, karena dosanya, Kain di usir oleh Tuhan dari tanah yang ia diami, terbuang pada padang rumput dimana Habil pernah mengembara.
Kain dan Habil. Pernyataan simbolik dari alkitab dari suatu ambiguitas- settlement dan nomadism. Dalam kerangka arsitektur, settlement, tentu saja sangat identik dengan arsitek, yang berfungsi untuk menciptakan lingkungan binaan. Lalu nomad, pengelana pada ruang-ruang terbuka, penjelajah-‘anti-arsitek’. Namun, Kain mati, dikutuk menjadi Habil si “ anti-arsitek”. Kemudian, apa artinya rumah, kalau toh Kain menjadi pengelana juga?
Arsitektur lahir, dari sebuah kebutuhan akan ruang tinggal-Rumah. Tempat dimana kita bisa pulang, dan dimana kita akan pergi. Dua aktivitas yang paradoks, yang tentunya merupakan pengalama spasial yang berbeda pula. Pulang, lalu pergi. Rumah-rumah gua,tenda-tenda yang bergerak menyebrangi bumi, mereka itu tidak meninggalkan jejak yang bertahan lama. Bermukim, berpindah dalam satu waktu? Keduanya saling beroposisi namun memiliki relasi yang sangat intens, ‘notion of journey’. Sangat dimungkinkan bahwa arsitektur, terlahir dari suatu pengembaraan. Sebuah upaya untuk menandai secara simbolik sebuah lansekap dimana suatu pengembaraan bersinggah.
Awal mula peradaban, selalu diawali dengan kata ‘ekspedisi’,’eksplorasi’ yang berujung dengan persinggahan,transisi atau settlement. Ingat marcopolo melakukan ekspedisi mengelilingi dunia, Kubilai Khan, Colombus, mereka itu pengembara yang menemukan tempat persinggahan,dan menandainya secara simbolik,yang hingga kini kita kenal sebagai ‘negara’ baru. Andaikata mereka tak ada, mungkin tak akan ditemukan ruang-ruang sudut dunia yang terpencil,kini menjadi negara besar. Sebelum merekapun, para manusia primitif mengembara untuk menemukan habitat yang cocok untuk mereka. Mendirikan gua, lalu bercocok tanam, kemudian pindah lagi jika alam tak lagi memungkinkan untuk tinggal. Arsitektur, sesuatu yang mereka tandai, tanda adanya kehidupan, meninggalkan jejak dari masa ke masa. Menceritakan suatu cerita, peristiwa akan siapa dan bagaimana alam dan manusia berdialog, bernegosiasi. Arsitektur, sebagai tempat yang tidak hanya ditinggali, namun tempat untuk pergi juga. Blue print sejarah yang nyata secara fisik.
Lalu apa artinya “ rumah”? di jaman ini?
Dalam dunia kontemporer sekarang ini, kita amati banyak ruang-ruang yang tercipta secara spontan. Sifatnya bermacam-macam, dari yang maya, psikis, temporer, maupun permanen. Pada sebuah kota, dimana masyarakatnya kini, bergairah untuk melepaskan diri keluar, mobilisasi individu akan kebutuhan yang kian membengkak. Terpental-pental dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Wkatu menjadi denyut baru kedihupan. Ruang menjadi kabur. Tak pernah benar-benar tinggal didalamnya,karena terus bergerak. Sesungguhnya, kita menjelma menjadi “penghuni waktu”, sementara rumah menjadi sekedar ruang transit. Rumah, menjadi kehilangan batas definitfnya dan menjadi elastis. Kota sendiri kita memunculkan perannya sebagai elemen rumah. Lihat penciptaan ruang-ruang singgah yang ada: duduk berjam jam di kafe berinternet, tidur di jalan dalam perjalanan pulang kantor, menerima tamu di lobi hotel, makan di restoran, menggunakan toilet di pompa bensin. Semuanya, seperti berganti setiap saat, tak ada yang benar-benar terdiami.
Lipatan ruang kota ,ruang-ruang transit telah tumbuh,teritori dalam perubahan mengikuti hentakan waktu. Ini merupakan suatu ruang yang “sekaligus tinggal dan pergi” melampaui pembagian berabad-abad lamanya antara “ruang tinggal” dan “ ruang pergi”. Tak hanya tekhnologi yang melahirkan semua prosesi kecepatan dan pemampatan, tapi juga ruang, kini mampat,terkondensasi dengan waktu pada saat bersamaan. Pengkotakan, pemisahan akan definisi rumah menjadi kabur, karena apakah sekarang rumah cenderung berbatas dalam hal fisik saja? Ataupun rumah merupakan pengembaraan itu sendiri? Rasanya seperti tak ada lagi tempat yang diikat oleh hal-hal yang dekat dan intim. Semua lepas, jadi suatu persinggahan yang tak kita kenali, apalagi kita cintai.
Lalu, suatu pertanyaan timbul, apakah kita nomad atau settler? Ambiguitas sekarang sangat nyata. Kehilangan diri dalam urban amnesia, ditengah ruang-ruang banal yang tercipta, tak sadar diri dari kota. Memori, menjadi tertindas,penolakan, ketiadaan kontrol,telah menghasilkan sistem dari ruang kosong yang didalamnya manusia hanya melayang. Mungkin, kita perlu jangkar, untuk bisa selalu kembali. Momen-momen,benda,orang-orang yang bisa mengikat ingatan lepas, menyadarkan dari amnesia urban berkepanjangan-mengembalikan rumah menjadi sesuatu yang intim. Yang membuat betah, dan memberi makna. Mungkin juga cinta.
Pencitraan akan sebuah rumah, tak sebatas fisik, namun hakekatnya lebih pada sesuatu yang tak terlihat. Sebuah kenangan, pengalaman yang mengikat kita pada sebuah ruang – sense of place. Nilai, makna akan suatu peristiwa, ikatan terhadap ruang tinggal dimana kita benar-benar hadir di dalamnya untuk mengalami. Karena, sering kita lupa bahwa yang tak terlihat itulah, adalah hakikat arsitektur sesungguhnya.
****
Kembali kepada pada percakapan kami
Sarah : “ No way, you do have home. Me, coming here, to find my way home. It must be something lingered ”.
Me: “ Come all away down to just find a home? Well, i guess we are the same. Yes, i have house, but i am not sure about home,eventually something to ligered on. It is my memory of place, whereas i feel so safe and inspired all the time”
Sarah : “ it’s look like we all refugees of our own life,dont we?try to find ourself secure at last?”
Me : “ just gotta find a place or space where you can be whatever to be”
Sarah : “I see, i think, you will never find your perfect house,untill you met your home”
Ubud, 8 April 2012






